PLTS Terapung (Floating PV) di Waduk: Ketika Energi Surya Menumpang di Atas Air
Redaksi EcoEdu · 21 September 2026 · 👁️ 66 kali dibaca

Di tengah tekanan lahan yang makin ketat di Pulau Jawa, sebuah teknologi lama menemukan panggung baru: memasang panel surya bukan di darat, melainkan mengambang di atas permukaan air. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung — atau dalam istilah internasional floating photovoltaic (FPV), kadang dijuluki floatovoltaics — telah bergerak dari eksperimen kecil di kolam bekas tambang menjadi salah satu segmen energi surya yang tumbuh paling cepat di dunia. Indonesia kebetulan berdiri tepat di episentrum lonjakan ini: waduk raksasa Cirata di Jawa Barat kini menjadi salah satu ikon global teknologi tersebut, sekaligus laboratorium hidup untuk menguji seberapa jauh air tawar negeri ini bisa menjadi ladang listrik bersih. Artikel ini mengupas cara kerja PLTS terapung secara rinci, praktik terbaik yang sudah berjalan di luar negeri, status penerapannya di Indonesia hari ini, serta — bagian yang paling penting bagi pembaca di tanah air — analisis peluang aplikasi yang konkret: seberapa besar potensinya, apakah cocok dengan kondisi lokal, tantangan apa yang menghadang, dan langkah nyata apa yang perlu diambil.

Gambar 1. Paradigma baru memindahkan episentrum energi ke atas air krisis ruang ke aset tersembunyi dan solusi presisi
Mengapa Panel Surya Naik ke Atas Air
Gagasan dasarnya sederhana. Panel surya membutuhkan dua hal: cahaya matahari yang berlimpah dan permukaan yang datar untuk dipasangi modul. Lahan datar yang lapang di dekat pusat beban listrik — khususnya di Jawa — semakin langka dan mahal, sering pula bersaing dengan kebutuhan pangan dan permukiman. Sementara itu, Indonesia memiliki ratusan waduk, danau, embung, dan kolam bekas tambang yang permukaannya luas, datar, dan nyaris tak termanfaatkan. PLTS terapung menjawab persoalan ini dengan memindahkan pembangkit ke atas air, sehingga lahan darat tetap utuh untuk fungsi lain. Namun keunggulannya bukan sekadar menghemat lahan. Air di bawah panel bertindak sebagai pendingin alami. Suhu sel surya yang lebih rendah membuat efisiensi konversi naik — berbagai kajian dan pengembang melaporkan peningkatan produksi listrik pada kisaran 5 hingga 15 persen dibanding sistem darat yang setara, karena panel silikon kehilangan sebagian efisiensinya setiap kali suhunya memanjat di atas sekitar 25 derajat Celsius. Di iklim tropis Indonesia yang panas, efek pendinginan ini bernilai ekonomi nyata. Manfaat lain mengalir ke arah sebaliknya: panel yang menaungi permukaan air menekan penguapan. Studi menunjukkan penutupan sekitar 10 persen luas permukaan dapat memangkas kehilangan air akibat penguapan sebesar 30 hingga 40 persen, dan pada konfigurasi tertentu angka penghematan bisa jauh lebih tinggi. Untuk waduk yang juga berfungsi sebagai sumber air baku, irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air, air yang tertahan itu berarti tambahan cadangan pada musim kemarau. Naungan panel juga menekan pertumbuhan alga dengan mengurangi cahaya dan panas yang masuk ke kolom air, meski dampak ekologisnya harus dikelola hati-hati agar tidak justru mengganggu oksigen terlarut dan biota.

Gambar 2. Matriks diagnostik perbandingan antara PLTS darat vs PLTS terapung
Cara Kerja: Anatomi Sebuah PLTS Terapung
Secara kelistrikan, PLTS terapung identik dengan PLTS darat. Modul fotovoltaik menyerap foton dan menghasilkan arus searah (DC); inverter mengubahnya menjadi arus bolak-balik (AC); transformator menaikkan tegangan untuk disalurkan ke jaringan. Yang membedakan adalah sistem yang membuat semua komponen ini tetap mengapung, stabil, dan aman di atas air yang bergerak.

Gambar 3. Anatomi PLTS terapung rekayasa fisik dan kelistrikan dari modul fotovoltaik sampai ke inverter dan transformator
Ponton dan struktur apung Jantung sistem adalah float atau ponton — modul apung, umumnya dari plastik HDPE (high-density polyethylene) yang tahan ultraviolet dan korosi. Ada dua mazhab utama: sistem ponton murni, di mana setiap panel duduk di atas pelampung yang saling dikait membentuk pulau modular; dan sistem apung-ponton dengan rangka logam (biasanya baja galvanis atau aluminium) yang menopang panel di atas float. Ribuan float dirangkai menjadi ‘pulau’ berisi ratusan hingga ribuan panel, lengkap dengan lorong perawatan (walkway) agar teknisi bisa berjalan di antara barisan modul. Penambatan dan sistem tambat (mooring & anchoring) Bagian paling menantang secara teknik justru tak terlihat: bagaimana menahan ‘pulau’ seluas puluhan hingga ratusan hektare agar tidak hanyut, berputar, atau terkoyak oleh angin dan gelombang, sekaligus tetap bisa naik-turun mengikuti fluktuasi muka air. Pada waduk pembangkit listrik tenaga air, muka air bisa berubah drastis — di beberapa bendungan hingga puluhan meter antara musim basah dan kering. Insinyur memakai tali tambat elastis, jangkar gravitasi berat, atau tiang pancang, dengan perhitungan cermat terhadap hembusan angin ekstrem dan topografi dasar waduk. Sistem tambat inilah yang menentukan apakah instalasi sanggup bertahan 25 tahun atau lebih.

Gambar 4. Rekayasa tersembunyi sistem penambatan (mooring & anchoring)
Kabel, inverter, dan keselamatan listrik Kabel bawah dan antar-array harus berkelas laut (marine-grade), tahan rendaman dan gesekan. Inverter dapat ditempatkan di atas platform apung khusus atau di tepi darat, tergantung skala dan desain. Karena semuanya berada di atas air, standar keselamatan listrik, pembumian (grounding), dan proteksi petir diterapkan lebih ketat. Faktor biaya pun bergeser: FPV umumnya menanggung premi modal sekitar 0,20–0,30 dolar AS per watt DC di atas sistem darat setara — kenaikan sekitar 10 hingga 25 persen — dengan pendorong utama pada perakitan platform/ponton (15–25 persen dari total belanja modal) serta sistem tambat kelas laut (5–10 persen). Premi biaya ini sebagian terbayar kembali oleh produksi listrik yang lebih tinggi berkat pendinginan air, oleh sinergi dengan pembangkit tenaga air yang sudah ada (berbagi gardu dan saluran transmisi), dan oleh nihilnya biaya pembebasan lahan yang di Jawa kerap menjadi hambatan terbesar dan termahal.
Praktik Terbaik di Luar Negeri
Pasar PLTS terapung global tengah melonjak. Penambahan kapasitas dunia diperkirakan naik hampir empat kali lipat dari sekitar 1,7 GW pada 2024 menjadi 6,7 GW pada 2025, dan berpotensi memuncak di kisaran 13,5 GW pada 2026. Ukuran pasarnya ditaksir bernilai sekitar 4,6 miliar dolar AS pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh menuju belasan miliar dolar pada awal 2030-an, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk di atas 20 persen. Kawasan Asia-Pasifik mendominasi dengan sekitar 70 persen kapasitas global. China: dari waduk ke laut lepas China menguasai porsi terbesar pasar dunia dan terus mendorong batas teknologi. Salah satu tonggak terbaru adalah rampungnya pembangkit surya terapung berkapasitas 1 GW di perairan lepas pantai dekat Kota Dongying oleh China Energy Investment Corporation — disebut sebagai instalasi FPV laut terbuka skala gigawatt pertama di dunia. Loncatan dari waduk tenang ke laut lepas menandai matangnya rekayasa tambat dan ketahanan material terhadap gelombang serta air asin, sesuatu yang beberapa tahun lalu masih dianggap terlalu berisiko. Singapura: energi bersih untuk sistem air Bagi Indonesia, contoh Singapura sangat relevan karena keduanya menghadapi keterbatasan lahan. Sembcorp Tengeh Floating Solar Farm seluas 45 hektare di Waduk Tengeh, dengan kapasitas 60 MWp dan 122.000 panel, menjadi salah satu PLTS terapung darat terbesar dunia saat diresmikan pada 2021. Listriknya cukup untuk menjalankan lima instalasi pengolahan air Singapura, mengimbangi sekitar 7 persen kebutuhan energi tahunan badan air nasional (PUB), dan menjadikan Singapura salah satu negara dengan sistem pengolahan air ‘hijau’ penuh. Modelnya — memasangkan pembangkit terapung dengan infrastruktur air milik negara — adalah cetak biru yang bisa ditiru operator waduk di Indonesia. India dan Belanda: reservoir hingga lepas pantai India, China, dan Indonesia bersama-sama menyumbang sekitar 31 GWdc kapasitas FPV terpasang, memimpin pasar global. India melengkapi proyek besar seperti pembangkit 126 MW milik Tata Power di Madhya Pradesh dan instalasi NTPC 100 MW di Ramagundam. Di Eropa, Belanda mendorong batas ke arah laut: pembangkit surya terapung berkapasitas hampir 759 MW direncanakan menyatu dengan ladang angin lepas pantai Hollandse Kust Noord — contoh integrasi lintas-teknologi (surya terapung berdampingan dengan turbin angin di laut) yang mengoptimalkan pemakaian ruang laut sekaligus berbagi koneksi jaringan.

5. Bukti global lonjakan kapasitas dan inovasi lintas batas di negara Belanda, China, India dan Singapura
Status dan Penerapan di Indonesia
Indonesia melompat ke panggung utama pada November 2023, ketika Presiden Joko Widodo meresmikan PLTS Terapung Cirata di Waduk Cirata, Jawa Barat. Dengan kapasitas 192 MWp yang terhampar di atas sekitar 200 hektare permukaan waduk — mencakup wilayah Kabupaten Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat — Cirata menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dan salah satu yang terbesar di dunia. Proyek ini adalah kolaborasi global antara PT PLN (Persero) melalui subholding PLN Nusantara Power dengan perusahaan energi terbarukan asal Uni Emirat Arab, Masdar. Dampaknya terukur. Cirata mampu memasok listrik untuk sekitar 50.000 rumah tangga dan diperkirakan menghindarkan emisi sekitar 214.000 ton karbon dioksida setiap tahun. Yang tak kalah penting, ia menumpang di waduk yang sudah lama menjadi lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, sehingga dapat berbagi gardu induk dan jaringan transmisi yang sudah ada — model ‘hibrida surya-hidro’ yang menekan biaya integrasi.

Gambar 6. Milestone Indonesia laboratorium hidup PLTS terapung Cirata model sinergi hibrida
Momentum berlanjut. Pemerintah menyetujui rencana ekspansi Cirata dengan tambahan kapasitas hingga sekitar 550 MW; bila terealisasi, total kapasitas terpasang PLTS Cirata bisa menembus sekitar 700 MWac dan menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Persetujuan awal atas rencana ekspansi ini diberikan pada Februari 2025, dengan catatan penting: tahap lanjutan mensyaratkan pemakaian sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) untuk mengatasi sifat surya yang berfluktuasi mengikuti cuaca dan waktu. Kajian pengembangannya masih berjalan dan ditargetkan rampung menjelang awal 2030-an. Ekspansi ini juga menyingkap dimensi sosial — negosiasi dengan pembudidaya ikan keramba jaring apung dan masyarakat sekitar waduk — yang harus dikelola secara adil.

Gambar 7. Ekspansi dan komplesitas masa depan 700 MW Cirata
Di tingkat kebijakan, PLTS terapung mendapat tempat menonjol dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Dalam dokumen tersebut, Indonesia merencanakan tambahan kapasitas listrik sekitar 69,5 GW dengan porsi mayoritas — sekitar 76 persen — berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi, termasuk tambahan pembangkit surya berskala belasan gigawatt. Yang membuat FPV menarik bagi pengembang adalah lokasinya: banyak waduk berada di Jawa, tepat di pusat permintaan listrik nasional, sehingga listriknya bisa langsung terserap tanpa transmisi jarak jauh yang mahal.
Peluang Aplikasi di Indonesia: Analisis Konkret
Potensi pasar: dari 14 GW hingga 89 GW Angka potensi PLTS terapung Indonesia bergantung pada asumsi luas permukaan yang boleh ditutup. Kementerian ESDM pernah merilis taksiran potensi sekitar 14 GW dari waduk dan bendungan; Kementerian Pekerjaan Umum mengidentifikasi 109 bendungan dengan potensi gabungan sekitar 13,89 GW. Namun bila cakupan diperluas ke seluruh waduk, danau, dan embung — dengan penutupan permukaan yang lebih agresif — potensinya melonjak hingga sekitar 89 GW yang tersebar di ratusan lokasi perairan. Bahkan pada skenario paling konservatif, angka belasan gigawatt sudah setara dengan sebagian besar target penambahan pembangkit surya nasional dalam satu dekade ke depan. Ini bukan ceruk kecil, melainkan pilar potensial transisi energi Indonesia.

Gambar 8. Skala potensi lompatan menuju 89 GW potensi nasional agresif
Kesesuaian dengan kondisi lokal Beberapa faktor membuat Indonesia sangat cocok. Pertama, iradiasi matahari yang relatif merata sepanjang tahun. Kedua, keberadaan puluhan waduk PLTA eksisting — Cirata, Jatiluhur, Saguling, dan lainnya — yang menawarkan sinergi hibrida surya-hidro: berbagi transmisi, saling melengkapi (surya siang hari, hidro sebagai penyeimbang), dan potensi ‘menabung air’ PLTA ketika surya sedang produktif. Ketiga, letak waduk-waduk utama di Jawa yang berdekatan dengan pusat beban, memangkas kebutuhan jaringan baru. Keempat, manfaat ganda konservasi air lewat penekanan penguapan, yang bernilai khusus di tengah tekanan iklim terhadap ketersediaan air baku.

Gambar 9. Pilar kesesuaian ekosistem FPV di Indonesia mulai dari stabilitas iradasi surya sampai nilai ganda konservasi
Tantangan yang harus dijawab Regulasi dan tata kelola air. Waduk adalah ruang multiguna — irigasi, air baku, PLTA, perikanan, wisata, dan pengendalian banjir. Aturan mengenai batas persentase luas permukaan yang boleh ditutup panel (untuk menjaga ekologi dan fungsi lain) menjadi penentu. Kepastian regulasi lintas-kementerian (ESDM, PUPR/Pekerjaan Umum, KLHK/Lingkungan Hidup, serta pengelola waduk) diperlukan agar investor punya kepastian jangka panjang. Biaya dan pembiayaan. Premi modal FPV di atas PLTS darat nyata, terutama pada ponton dan sistem tambat. Ditambah kebutuhan BESS untuk ekspansi seperti Cirata, belanja modal awal cukup besar. Skema pembiayaan hijau, tarif yang menarik, dan pengadaan yang transparan diperlukan agar proyek layak secara keekonomian. Rantai pasok dan SDM. Ponton HDPE, sistem tambat, dan inverter berkualitas sebagian masih diimpor. Membangun industri komponen dalam negeri serta tenaga kerja yang terampil dalam rekayasa apung, penambatan, dan pemeliharaan di atas air akan menentukan daya saing biaya jangka panjang dan penciptaan nilai tambah domestik. Lingkungan dan sosial. Penutupan permukaan memengaruhi oksigen terlarut, suhu, dan biota air. Kehadiran pembudidaya ikan keramba — seperti di Cirata — menuntut solusi yang adil, entah lewat relokasi tertata, kompensasi, atau skema keterlibatan masyarakat. Kajian dampak lingkungan yang serius, bukan formalitas, adalah prasyarat. Infrastruktur jaringan. Meski waduk di Jawa dekat pusat beban, injeksi surya dalam jumlah besar yang berfluktuasi menuntut jaringan yang fleksibel, penyimpanan energi, dan manajemen sistem yang lebih canggih agar stabilitas tetap terjaga.

Gambar 10. Lanskap tantangan skalabilitas dari regulasi sampai infrastruktur jaringan
Rekomendasi langkah Pertama, prioritaskan model hibrida surya-hidro di waduk PLTA eksisting sebagai ‘buah yang paling mudah dipetik’: infrastruktur transmisi sudah ada, sinergi operasional jelas, dan lahan tak perlu dibebaskan. Kedua, terbitkan kerangka regulasi lintas-kementerian yang tegas soal batas penutupan permukaan, izin, dan pembagian tanggung jawab, agar investor memperoleh kepastian. Ketiga, dorong lokalisasi rantai pasok — ponton, tambat, rangka — lewat insentif dan kandungan lokal bertahap, sekaligus program pelatihan tenaga kerja khusus FPV. Keempat, padukan setiap proyek skala besar dengan penyimpanan energi dan perencanaan jaringan sejak awal, bukan sebagai renungan belakangan. Kelima, tanam kajian lingkungan dan sosial yang jujur di hulu proses, dengan pelibatan nyata masyarakat waduk. Keenam, manfaatkan pembangkit percontohan seperti Cirata sebagai pusat pembelajaran nasional — data operasionalnya (produksi, degradasi panel, perilaku tambat, dampak ekologi) adalah aset berharga untuk mengkalibrasi proyek-proyek berikutnya di 293 lokasi perairan potensial.

Gambar 11. Peta jalan eksekusi 6 langkah membuka kunci 89 GW
Penutup
PLTS terapung menawarkan Indonesia sesuatu yang langka dalam transisi energi: solusi yang menghemat lahan, menghasilkan listrik lebih efisien berkat pendinginan air, menekan penguapan waduk, dan bersinergi dengan pembangkit air yang sudah ada — semuanya dekat dengan pusat permintaan di Jawa. Cirata membuktikan bahwa proyek skala ratusan megawatt bisa dibangun dan dioperasikan di sini, sementara pengalaman China, Singapura, India, dan Belanda menunjukkan ke mana teknologi ini akan bergerak. Dengan potensi yang ditaksir mencapai puluhan gigawatt, pertanyaannya bukan lagi apakah PLTS terapung layak bagi Indonesia, melainkan seberapa cepat regulasi, pembiayaan, rantai pasok, dan tata kelola sosial-lingkungan bisa dibereskan agar potensi di atas air itu benar-benar menjelma menjadi listrik bersih di jaringan.
Artikel Terkait

Air Bekas Jadi Aset: Bagaimana Daur Ulang Air Industri (Water Reuse) Mengubah Pabrik Menjadi Lebih Tangguh Air

Sensor Lingkungan Berbasis IoT: Ketika Pemantauan Menjadi Murah, Real-Time, dan Milik Semua Orang

PLTB Lepas Pantai: Peluang Raksasa Energi Angin di Laut Nusantara