Teknologi Lingkungan

Menyedot Karbon dari Udara: Menakar Masa Depan Direct Air Capture dan Peluang Besar Indonesia

Redaksi EcoEdu ยท 24 September 2026 ยท ๐Ÿ‘๏ธ 41 kali dibaca

Menyedot Karbon dari Udara: Menakar Masa Depan Direct Air Capture dan Peluang Besar Indonesia

Selama lebih dari seabad, cerobong pabrik, knalpot kendaraan, dan pembangkit listrik tanpa henti mengirim karbon dioksida ke atmosfer. Konsentrasi CO2 di udara kini menembus 420 bagian per sejuta (ppm), tertinggi dalam jutaan tahun, dan setiap laporan iklim menegaskan bahwa memangkas emisi saja tidak lagi cukup. Untuk menahan pemanasan global di kisaran 1,5โ€“2 derajat Celsius, dunia harus mulai menarik kembali karbon yang sudah terlanjur menumpuk di langit. Di sinilah sebuah teknologi yang dulu terdengar seperti fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan industri: Direct Air Capture, atau penangkapan karbon langsung dari udara bebas.

Gambar 1. Memangkas emisi masa depan tidak lagi cukup untuk menjaga batas

Berbeda dengan penangkapan karbon konvensional yang memasang penyaring pada cerobong pabrik dengan konsentrasi CO2 tinggi, Direct Air Capture (DAC) bekerja pada udara terbuka di mana kadar CO2 sangat encer โ€” hanya 0,04 persen. Ibarat memancing ikan di lautan yang sangat luas namun sedikit ikannya, DAC harus memproses volume udara raksasa untuk memanen sejumlah kecil karbon. Justru karena itulah teknologi ini dianggap sebagai salah satu solusi iklim yang paling menantang secara teknis sekaligus paling menjanjikan secara jangka panjang. Artikel ini mengupas cara kerja DAC, lompatan terbaru di panggung dunia, posisi Indonesia, dan โ€” yang paling penting โ€” mengapa Indonesia sebenarnya menyimpan salah satu modal alam terbaik di dunia untuk teknologi ini.

Gambar 2. Tantangan teknis utama DAC adalah memproses udara terbuka yang sangat encer menjadi karbon murni


Bagaimana Direct Air Capture Bekerja

Secara prinsip, DAC menggunakan kipas besar untuk menghisap udara luar dan mengalirkannya melewati bahan kimia yang mengikat molekul CO2 secara selektif. Setelah bahan pengikat itu jenuh, karbon yang tertangkap dilepaskan kembali dalam bentuk gas CO2 murni dan terkonsentrasi, lalu dikompresi untuk disimpan permanen di bawah tanah atau dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Ada dua pendekatan utama yang mendominasi industri saat ini, masing-masing dengan karakter energi yang berbeda. Pendekatan pelarut cair (liquid solvent) Sistem berbasis pelarut cair umumnya menggunakan larutan basa kuat seperti kalium hidroksida untuk menyerap CO2 dari udara. Karbon yang terikat kemudian diproses menjadi pelet karbonat, yang harus dipanaskan pada suhu sangat tinggi โ€” berkisar 300 hingga 900 derajat Celsius โ€” agar melepaskan kembali gas CO2 murni. Kebutuhan panas ekstrem ini membuat sistem cair biasanya menuntut sekitar 345โ€“700 kWh energi per ton CO2 yang ditangkap, dengan tantangan menyediakan sumber panas bersih pada temperatur setinggi itu. Perusahaan seperti Carbon Engineering asal Kanada mempopulerkan pendekatan ini, yang menjadi basis teknologi bagi proyek raksasa Stratos di Texas. Pendekatan sorben padat (solid sorbent) Sistem sorben padat memakai filter atau bahan penyerap padat yang mengikat molekul CO2 pada suhu ruang. Ketika filter jenuh, ia dipanaskan pada temperatur jauh lebih rendah โ€” sekitar 80 hingga 120 derajat Celsius โ€” dalam siklus yang disebut temperature swing adsorption untuk melepaskan CO2 pekat. Keunggulan utamanya adalah suhu regenerasi yang rendah, sehingga dapat digerakkan oleh sumber panas terbarukan seperti energi panas bumi atau limbah panas industri. Kelemahannya, konsumsi energi total tetap besar, secara khas 1.500 hingga 2.000 kWh per ton CO2, dan komponen terbesar justru berasal dari kebutuhan panas untuk regenerasi. Perusahaan Swiss, Climeworks, adalah pelopor terdepan pendekatan ini.

Gambar 3. Matriks teknologi DAC kebutuhan energi regenerasi menentukan kelayakan lokasi

Terlepas dari pendekatannya, konsumsi energi umumnya terbagi ke dalam dua bagian besar: pengoperasian kipas penghisap udara yang berjalan terus-menerus (menyerap sekitar 20โ€“40 persen total energi) dan proses regenerasi sorben yang merupakan tahap paling boros energi. Inilah sebabnya kunci keekonomian DAC bukan hanya pada teknologi penyerapnya, melainkan pada ketersediaan energi bersih yang murah dan melimpah โ€” sebuah poin yang akan menjadi sangat relevan ketika kita membahas Indonesia.


Lompatan Dunia: Dari Islandia ke Texas

Panggung global DAC saat ini dipimpin oleh dua kutub yang kontras. Yang pertama adalah Islandia, tempat Climeworks mengoperasikan pabrik Mammoth โ€” fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon langsung terbesar di dunia yang beroperasi hingga saat ini. Diresmikan pada Mei 2024, Mammoth kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada pendahulunya, Orca, dengan kapasitas nominal menangkap hingga 36.000 ton CO2 per tahun. Yang menjadikan Islandia begitu ideal bukan kebetulan: kedua pabrik itu berdiri di dalam kawasan panas bumi Hellisheidi. Climeworks memanfaatkan air panas dan listrik dari panas bumi untuk menggerakkan proses DAC, lalu mengembalikan air panas itu untuk digunakan ulang โ€” sebuah sirkularitas energi yang nyaris sempurna. CO2 yang ditangkap kemudian dilarutkan dalam air dan disuntikkan ke formasi batuan basalt, tempat ia membatu secara permanen dalam hitungan tahun. Kutub kedua adalah Amerika Serikat, khususnya Texas, tempat Occidental Petroleum melalui anak usahanya 1PointFive membangun Stratos โ€” proyek yang dirancang untuk menangkap hingga 500.000 ton CO2 per tahun, atau hampir empat belas kali lipat kapasitas Mammoth. Bila beroperasi penuh, Stratos akan mengubah skala industri DAC dari eksperimen menjadi infrastruktur. Namun perjalanannya tidak mulus: hingga pertengahan 2026, komisioning Fase 1 Stratos mengalami penundaan karena masalah pada komponen non-proses yang teridentifikasi setelah teknologi inti lolos uji awal, dan tanggal operasi penuh yang baru belum diumumkan. Penundaan ini menjadi pengingat bahwa menaikkan skala teknologi iklim dari purwarupa ke pabrik komersial penuh tetap penuh tantangan rekayasa.

Gambar 4. Panggung global dua kutub yang memimpin industri pengihlangan karbon saat ini

Di balik dua proyek mercusuar itu, momentum kebijakan dan pasar terus tumbuh. Departemen Energi Amerika Serikat menjalankan program Regional DAC Hubs, mengucurkan dana awal 1,2 miliar dolar AS untuk dua pabrik skala komersial di Louisiana dan Texas serta belasan proyek tahap awal, kemudian menambah tranche kedua sebesar 1,8 miliar dolar AS. Proyek Cypress di Louisiana โ€” kolaborasi Climeworks, Heirloom, dan Battelle โ€” menjadi salah satu penerima utama. Program ambisius Carbon Negative Shot bahkan menargetkan menekan biaya DAC di bawah 100 dolar AS per ton, sebuah lompatan besar dari kondisi saat ini. Soal biaya inilah tantangan terbesar DAC. Estimasi saat ini masih berkisar 250 hingga 600 dolar AS per ton CO2, bahkan sebagian analisis menempatkannya antara 500 hingga 1.000 dolar AS per ton, bergantung pada jenis teknologi, sumber energi, dan logistik penyimpanan. Kabar baiknya, biaya telah turun sekitar 90 persen dari level pilot pada 2015. Pendorong lain datang dari sisi pasar: Microsoft menandatangani kontrak pembelian kredit penghilangan karbon multi-tahun dengan 1PointFive pada kisaran 200 hingga 300 dolar AS per ton dalam volume ratusan ribu ton โ€” kepastian pendapatan semacam inilah yang dibutuhkan pengembang untuk mengamankan pembiayaan konstruksi. Menurut proyeksi industri, kapasitas DAC global sempat diperkirakan melonjak dari 59 ribu ton CO2 per tahun pada 2024 menjadi ratusan ribu ton pada 2025, sebagian besar bergantung pada peluncuran Stratos.

Gambar 5. Tantangan keekonomian misi menurunkan biaya hingga di bawah 100 dollar per ton


Posisi Indonesia: Fondasi Regulasi yang Menguat

Indonesia belum memiliki pabrik Direct Air Capture yang beroperasi. Namun, fondasi yang lebih luas untuk teknologi karbon โ€” yakni Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) โ€” justru sedang dibangun dengan agresif, dan inilah pijakan yang kelak dibutuhkan DAC. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2023 dan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 sebagai landasan hukum utama pengembangan CCS. Kemudian, Permen ESDM Nomor 16 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Penyimpanan Karbon resmi diundangkan pada 24 Desember 2024, melengkapi kerangka regulasi industri ini. Langkah ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pionir regulasi penyimpanan karbon di Asia Tenggara.

Gambar 6. Fondasi regulasi Indonesia memelopori kerangka hukum penyimpanan karbon di Asia Tenggara

Yang menarik, regulasi Indonesia mengatur alokasi kapasitas penyimpanan dengan skema 70-30: minimal 70 persen kapasitas diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, sementara sisanya dapat menampung karbon dari negara lain. Ini membuka peluang Indonesia menjadi hub penyimpanan karbon regional. Pemerintah menargetkan sekitar 15 proyek CCS beroperasi pada 2030, dengan proyek Tangguh CCUS di Papua Barat sebagai salah satu yang paling dekat menuju realisasi. Untuk memperkuat ekosistem, pemerintah juga membentuk CCS/CCUS National Centre of Excellence bersama lembaga riset dan universitas. Modal geologis Indonesia untuk menyimpan karbon sungguh luar biasa. Berdasarkan kajian ESDM, potensi penyimpanan mencapai sekitar 572 miliar ton CO2 pada akuifer garam (saline aquifer) dan 4,85 miliar ton pada reservoir migas yang telah menipis โ€” total ratusan gigaton. Cekungan Jawa Timur Laut (North East Java Basin) sendiri diperkirakan mampu menampung lebih dari 100 gigaton. Kapasitas sebesar ini disebut cukup untuk menampung emisi domestik hingga ratusan bahkan seribu tahun, dan membuka potensi bisnis penyimpanan bernilai hingga puluhan miliar dolar AS. Dengan kata lain, jika kelak DAC menangkap karbon di Indonesia, tempat untuk menyimpannya secara permanen sudah tersedia dalam skala yang nyaris tak terbatas.

Gambar 7. Brankas raksasa kapasitas penyimpanan geologis domestik mampu menampung ratusan gigaton CO2


Peluang Aplikasi di Indonesia: Modal Panas Bumi yang Terlupakan

Di sinilah letak sudut yang paling menarik. Rahasia keberhasilan Islandia sebagai lokasi DAC terbaik dunia bukanlah teknologi yang eksklusif, melainkan geografinya: melimpahnya energi panas bumi murah, ketersediaan lokasi penyimpanan CO2 di batuan, dan tumbuhnya keahlian teknis. Ketiganya bertemu di satu tempat. Kini bandingkan dengan Indonesia โ€” negara dengan cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia dan kapasitas terpasang yang terus tumbuh, serta potensi penyimpanan karbon geologis yang jauh lebih besar daripada Islandia. Secara prinsip, Indonesia memiliki resep yang sama dengan Islandia, hanya saja dalam skala benua. Panas bumi adalah kunci karena, seperti diuraikan sebelumnya, tahap paling boros energi pada DAC sorben padat adalah regenerasi yang menuntut panas bersuhu 80โ€“120 derajat Celsius โ€” persis rentang yang secara alami tersedia dari fluida panas bumi. Studi pemodelan sistem proses berkelanjutan menunjukkan bahwa DAC bertenaga panas bumi yang dipadukan dengan pemanfaatan panas terbuang (misalnya untuk district heating) dapat menekan penalti energi secara signifikan. Wilayah seperti Dataran Tinggi Dieng, Kamojang, Wayang Windu di Jawa Barat, atau lapangan-lapangan panas bumi di Sumatera dan Sulawesi berpotensi menjadi lokasi ideal DAC-panas bumi Indonesia, di mana panas dan listrik bersih tersedia berdampingan sepanjang tahun tanpa intermitensi seperti surya atau angin.

Gambar 8. Mesin penggerak modal panas bumi nusantara adalah pasangan sempurna untuk teknologi sorben padat

Potensi pasar dan kesesuaian lokal Peluang pasarnya bertumpu pada tiga arus permintaan. Pertama, komitmen Net Zero Emission Indonesia 2060 yang menuntut penghilangan karbon untuk sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi seperti semen, baja, dan penerbangan. Kedua, bursa karbon Indonesia (IDXCarbon) yang telah beroperasi dan berpotensi menyerap kredit penghilangan karbon berkualitas tinggi berbasis DAC. Ketiga, permintaan global akan kredit karbon bermutu tinggi dari perusahaan teknologi dan multinasional yang, seperti Microsoft, bersedia membayar premium untuk penghilangan karbon yang benar-benar permanen dan terukur. Kombinasi panas bumi murah, kapasitas penyimpanan raksasa, dan akses ke pasar karbon menempatkan Indonesia pada posisi yang jarang dimiliki negara lain.

Gambar 9. Tiga pilar permintaan faktor pembentuk pasar DAC di Indonesia mulai dari target NZE 2060 sampai permintaan global

Tantangan yang harus dijawab Tentu, jalan menuju DAC di Indonesia tidak tanpa hambatan. Tantangan biaya tetap yang paling berat: dengan harga masih 250โ€“600 dolar AS per ton, DAC belum ekonomis tanpa insentif, harga karbon yang cukup tinggi, atau kontrak pembelian jangka panjang. Dari sisi regulasi, kerangka CCS Indonesia memang sudah kuat, tetapi belum ada aturan turunan yang secara spesifik mengatur penghilangan karbon berbasis DAC dan bagaimana kredit permanennya diperlakukan dalam sistem perdagangan karbon nasional. Dari sisi sumber daya manusia, dibutuhkan insinyur proses, ahli material sorben, dan spesialis geologi penyimpanan yang saat ini masih langka. Infrastruktur pendukung โ€” jaringan pipa CO2, fasilitas injeksi, sistem monitoring, reporting, dan verifikasi (MRV) โ€” juga masih pada tahap sangat awal. Ada pula pertimbangan agar DAC tidak menjadi dalih menunda pengurangan emisi di hulu; DAC harus diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti transisi energi.

Gambar 10. Menavigasi hambatan kesenjangan yang harus ditutup untuk mencapai komersialisasi


Rekomendasi langkah

Untuk mengubah potensi menjadi kenyataan, sejumlah langkah konkret dapat ditempuh secara bertahap. Pemerintah sebaiknya memasukkan penghilangan karbon (carbon dioxide removal), termasuk DAC, ke dalam aturan turunan Perpres 14/2024 dan skema perdagangan karbon, sehingga kredit DAC memiliki dasar hukum dan nilai pasar yang jelas. Kedua, memulai proyek percontohan (pilot) DAC-panas bumi skala kecil di satu lapangan panas bumi eksisting sebagai laboratorium hidup, bekerja sama dengan pengembang seperti Pertamina Geothermal Energy dan mitra teknologi internasional. Ketiga, mengintegrasikan DAC ke dalam rencana hub CCS regional yang sedang dibangun, memanfaatkan cekungan Jawa Timur Laut dan lapangan migas yang menipis sebagai tempat penyimpanan permanen. Keempat, membangun kapasitas SDM melalui National Centre of Excellence dan program riset kampus. Kelima, menarik pembeli kredit karbon korporat global untuk memberikan kepastian pendapatan yang menjadikan proyek layak secara finansial. Dengan urutan langkah yang tepat, Indonesia berpeluang bukan sekadar mengikuti tren global DAC, melainkan memimpinnya di kawasan tropis.

Gambar 11. Peta jalan nyata lima langkah strategis menjadikan Indonesia pusat DAC tropis

Penutup

Direct Air Capture masih muda, mahal, dan penuh tanda tanya soal skala. Namun ia mewakili sebuah pergeseran cara berpikir yang mendalam: manusia tidak lagi sekadar berusaha berhenti merusak atmosfer, tetapi mulai belajar memperbaikinya. Islandia menunjukkan bahwa perpaduan panas bumi dan geologi yang tepat bisa menyulap udara tipis menjadi batu karbon permanen. Indonesia, dengan cadangan panas bumi kelas dunia dan ruang penyimpanan karbon yang nyaris tak terbatas, memegang kartu yang bahkan lebih kuat. Yang dibutuhkan sekarang bukanlah menunggu teknologi menjadi murah dengan sendirinya, melainkan keberanian untuk mulai membangun, belajar, dan menempatkan diri di garis depan solusi iklim generasi berikutnya. Langit yang lebih bersih, pada akhirnya, mungkin dimulai dari uap panas bumi di pegunungan Nusantara.

Bagikan:

Artikel Terkait