Menangkap Karbon Sebelum Naik ke Langit: Momentum CCUS Indonesia Menuju Keputusan Investasi 2026
Redaksi EcoEdu ยท 15 September 2026 ยท ๐๏ธ 10 kali dibaca

Ketika dunia berjuang menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius, satu pertanyaan teknis menjadi semakin mendesak: bagaimana caranya menurunkan emisi dari pabrik semen, kilang gas, dan pembangkit listrik yang tidak bisa begitu saja dimatikan dalam semalam? Untuk sektor-sektor "sulit diturunkan" (hard-to-abate) inilah teknologi Carbon Capture, Utilisation and Storage โ disingkat CCUS โ hadir sebagai jawaban. Alih-alih membiarkan karbon dioksida (CO2) terlepas ke atmosfer, CCUS menangkapnya di sumber emisi, lalu memanfaatkannya untuk keperluan industri atau menyuntikkannya jauh ke dalam formasi geologi bawah tanah agar terkurung permanen selama ribuan tahun. Bagi Indonesia, topik ini bukan lagi wacana akademis. Sepanjang 2024โ2026, negeri ini menempatkan diri sebagai calon "hub" penyimpanan karbon di kawasan Asia-Pasifik, didukung kapasitas geologi yang luar biasa besar, kerangka regulasi baru, dan sederet proyek raksasa yang tengah menanti keputusan investasi final. Momentum ini membuat tahun 2026 menjadi titik yang menentukan. Artikel ini mengupas cara kerja CCUS secara detail, praktik terbaik dunia, status penerapan di Indonesia, dan โ yang paling penting bagi pembaca di Tanah Air โ analisis peluang aplikasi yang konkret beserta tantangannya.
Bagaimana CCUS Bekerja: Dari Cerobong ke Bawah Tanah
Rantai nilai CCUS terdiri atas tiga tahap utama yang saling terhubung: penangkapan (capture), transportasi (transport), dan penyimpanan atau pemanfaatan (storage/utilisation). Setiap tahap memiliki tantangan teknis dan biayanya sendiri, dan keseluruhan rantai inilah yang menentukan kelayakan ekonomi sebuah proyek.

Gambar 1. Dari Cerobong ke Bawah Tanah Anatomi Rantai Nilai CCUS mulai dari penangkapan, transportasi dan penyimpanan atau pemanfaatan
Pada tahap penangkapan, ada empat pendekatan besar. Yang paling matang dan paling banyak dipakai adalah post-combustion capture, yaitu memisahkan CO2 dari gas buang setelah bahan bakar dibakar. Metode ini umumnya menggunakan pelarut kimia berbasis amina โ paling klasik adalah monoetanolamina (MEA) โ yang menyerap CO2 dari aliran gas buang di sebuah menara absorber. Larutan kaya-CO2 kemudian dipanaskan di kolom regenerator sehingga CO2 terlepas kembali dalam bentuk pekat siap dikompresi, sementara pelarutnya diputar ulang. Keunggulan post-combustion adalah dapat dipasang (retrofit) pada fasilitas yang sudah beroperasi, seperti pembangkit dan pabrik semen, tanpa merombak seluruh prosesnya. Tiga pendekatan lainnya adalah pre-combustion capture (mengubah bahan bakar menjadi gas sintesis lalu memisahkan CO2 sebelum pembakaran), oxy-fuel combustion (membakar bahan bakar dengan oksigen murni sehingga gas buang nyaris CO2 murni dan mudah ditangkap), serta Direct Air Capture (DAC) yang menyedot CO2 langsung dari udara bebas. DAC bekerja melalui dua jalur teknologi utama: sorben padat yang mengikat molekul CO2 saat udara melewatinya, dan pelarut cair yang menyerap CO2 dari aliran udara. Karena konsentrasi CO2 di atmosfer sangat encer (sekitar 0,04 persen), DAC jauh lebih mahal โ perkiraan biaya pada 2025 berkisar 400 hingga 1.500 dolar AS per ton CO2, meski pabrik skala penuh generasi awal yang akan hadir menjelang 2030 diperkirakan menekan biaya ke kisaran 400โ1.000 dolar AS per ton. Setelah ditangkap, CO2 dikompresi hingga menjadi fase "superkritis" โ perilaku antara cairan dan gas yang membuatnya padat dan mudah dialirkan โ lalu diangkut melalui pipa, kapal, atau truk menuju lokasi penyimpanan. Di tahap akhir, CO2 disuntikkan ke formasi geologi pada kedalaman lebih dari 800 meter: bisa berupa reservoir minyak dan gas yang sudah menua (depleted reservoir), akuifer garam dalam (saline aquifer), atau lapisan batuan berpori lain. Lapisan batuan penutup (caprock) yang kedap di atasnya berfungsi sebagai segel alami yang menahan CO2 tetap terperangkap. Di sinilah huruf "U" โ Utilisation โ memainkan peran ekonomi penting. Alih-alih hanya disimpan, CO2 dapat dimanfaatkan, misalnya untuk Enhanced Oil Recovery (EOR): menyuntikkan CO2 ke sumur minyak tua untuk mendorong keluar sisa minyak yang sulit diangkat sekaligus menyimpan karbon di bawah tanah. Pemanfaatan lain mencakup produksi bahan kimia, bahan bakar sintetis, beton yang menyerap karbon, hingga penggunaan CO2 dalam industri makanan dan minuman. Pemanfaatan ini membantu memperbaiki keekonomian proyek yang secara murni penyimpanan sering kali sulit menutup biaya.

Gambar 2. Matriks eknologi penangkapan karbon pemanfaatan ini membantu memperbaiki keekonomian proyek
Praktik Terbaik Dunia: Industri Bertahan Menuju Skala Gigaton
Secara global, CCUS tumbuh pesat meski menghadapi tekanan ekonomi dan pergeseran prioritas kebijakan. Menurut laporan Global Status of CCS 2025 yang diterbitkan Global CCS Institute, jumlah proyek yang beroperasi melonjak 54 persen dalam setahun, dari 50 menjadi 77 fasilitas, dengan kemampuan menyimpan sekitar 64 juta ton CO2 per tahun. Sebanyak 47 proyek lagi tengah dibangun dengan kapasitas kumulatif 44 juta ton per tahun โ sinyal potensi kenaikan kapasitas operasional hingga 70 persen dalam beberapa tahun ke depan. Total kapasitas penangkapan, baik yang beroperasi maupun dalam pengembangan, tumbuh 23 persen menjadi 513 juta ton per tahun, dengan laju pertumbuhan majemuk di atas 30 persen sejak 2017. Di sektor industri, salah satu tonggak paling penting adalah pabrik semen Brevik milik Norcem di Norwegia, bagian dari proyek nasional Longship/Northern Lights. Uji coba penangkapan berbasis amina di Brevik kini diperbesar untuk menangkap hingga 400.000 ton CO2 per tahun. Proyek ini menjadi rujukan global karena semen adalah salah satu penyumbang emisi industri terbesar โ sekitar 7โ8 persen emisi CO2 dunia โ dan sebagian besar emisinya berasal dari reaksi kimia pembuatan klinker, bukan sekadar pembakaran bahan bakar, sehingga tidak bisa dihilangkan hanya dengan berpindah ke energi bersih. Post-combustion capture berbasis amina saat ini adalah teknologi paling matang yang tersedia untuk industri semen, dengan beberapa pemasok komersial di pasar.

Gambar 3. Menuju skala gigaton momentum global 2025 fasilitas operasional melonjok 54 persen
Inovasi pelarut terus berjalan. Pelarut amina generasi pertama seperti MEA, DEA, dan TEA kini dilengkapi pelarut amina hibrida yang dinilai paling hemat biaya dan praktis untuk periode 2025โ2030, sementara ionic liquids dan garam asam amino muncul sebagai alternatif menjanjikan yang menekan konsumsi energi regenerasi. Di ranah DAC, perusahaan seperti Climeworks di Islandia mengoperasikan fasilitas yang menyimpan CO2 dengan cara memineralisasinya menjadi batuan. Amerika Serikat, melalui insentif pajak 45Q, dan Uni Eropa, melalui skema perdagangan emisi, menjadi motor pendorong utama investasi CCUS global.
Status di Indonesia: Ambisi Menjadi Hub Karbon Kawasan
Indonesia memiliki modal geologi yang jarang dimiliki negara lain. Estimasi kapasitas penyimpanan karbon nasional mencapai 400 hingga 573 gigaton CO2 โ sebagian sumber bahkan menyebut potensi hingga sekitar 700 gigaton bila memasukkan akuifer garam. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai calon hub penyimpanan karbon regional Asia-Pasifik. Untuk memberi konteks, seluruh emisi CO2 Indonesia dalam setahun hanya sepersekian kecil dari kapasitas itu, sehingga secara teoritis ruang penyimpanan tersedia tidak hanya untuk emisi domestik tetapi juga untuk "menitipkan" karbon dari negara tetangga. Pemerintah telah membangun kerangka hukum yang relatif maju untuk ukuran negara berkembang. Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2023 mengatur penyelenggaraan CCS dan CCUS pada kegiatan usaha hulu minyak dan bumi. Kemudian Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Penyimpanan Karbon di Wilayah Izin Penyimpanan Karbon (WIPK), yang berlaku efektif sejak 24 Desember 2024, memperjelas aspek praktis proyek CCS di luar kerangka hulu migas โ termasuk membuka peluang penyimpanan karbon lintas negara. Kementerian ESDM memposisikan CCS dan CCUS sebagai salah satu pilar utama strategi transisi energi menuju target nol emisi bersih (net zero) pada 2060.

Gambar 4. Evolusi kerangka hukum kepastian jangka panjang membangun kerangka hukum yang relatif maju untuk negara berkembang
Di lapangan, sekitar 15 hingga 19 proyek CCS/CCUS telah teridentifikasi dan diperkirakan mulai beroperasi antara 2026 dan 2030, dengan total nilai investasi mencapai belasan miliar dolar AS. Dua proyek berskala raksasa paling menonjol. Pertama, proyek CCUS Tangguh yang dikembangkan BP di lapangan gas alam cair Tangguh, Papua Barat โ lapangan gas terbesar Indonesia yang menyumbang sekitar seperlima produksi gas nasional. Kesepakatan senilai sekitar 7 miliar dolar AS antara Indonesia dan BP pada akhir November 2024 menargetkan penyuntikan puluhan juta ton CO2 kembali ke reservoir, langkah yang diperkirakan memangkas separuh emisi karbon Tangguh. Kedua, proyek CCS di Cekungan Sunda-Asri, lepas pantai Tenggara Sumatra, hasil kolaborasi Pertamina dengan ExxonMobil. Pertamina mengidentifikasi potensi penyimpanan karbon cekungan ini mencapai 2 gigaton CO2, dan ExxonMobil menegaskan niat investasi hingga sekitar 15 miliar dolar AS untuk fasilitas CCS berikut kompleks petrokimia. Keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) untuk proyek ini dijadwalkan diambil paling lambat pada 2026 โ inilah alasan mengapa tahun ini menjadi begitu menentukan bagi arah CCUS nasional.

Gambar 5. Tahun penentuan keputusan investasi final (FID) dan menentukan bagi arah CCUS nasional
Indonesia juga memiliki pengalaman proyek percontohan. Proyek Gundih di Jawa Timur, dipimpin Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung, JGC, J-Power, dan JANUS dengan dukungan METI Jepang, menargetkan kapasitas penyimpanan 3 juta ton CO2 selama 10 tahun dan direncanakan beroperasi sebelum 2030. Sementara itu, di lapangan Sukowati, Pertamina EP menguji pemanfaatan CO2 untuk EOR bersama JOGMEC Jepang pada Februari 2024, yang menunjukkan potensi peningkatan produksi minyak 30โ40 persen. Studi kelayakan pada pembangkit listrik Indonesia memperkirakan biaya CCS sepanjang rantai nilai โ penangkapan, transportasi, dan penyimpanan โ sekitar 71 dolar AS per ton CO2, angka yang kompetitif dibanding banyak yurisdiksi lain.

Gambar 6. Keekonomian proyek & target implementasi paling siap antara cost dan revenue atau value
Peluang Aplikasi di Indonesia: Analisis Konkret
Peluang penerapan CCUS di Indonesia sangat nyata, tetapi keberhasilannya bergantung pada pemilihan sektor yang tepat dan kesiapan ekosistem pendukung. Dari sisi potensi pasar, sumber emisi terkonsentrasi yang paling siap ditangkap adalah kilang pemrosesan gas alam (seperti Tangguh, di mana CO2 memang sudah terpisah dalam proses), pabrik pupuk dan petrokimia, pabrik semen, serta pembangkit listrik tenaga batu bara. Industri pupuk Indonesia โ melalui Pupuk Indonesia dan anak usahanya โ menghasilkan aliran CO2 relatif murni yang secara teknis paling murah untuk ditangkap, menjadikannya kandidat "buah yang paling rendah dan mudah dipetik" untuk proyek awal. Kesesuaian kondisi lokal juga menguntungkan. Banyak sumber emisi besar berada dekat dengan reservoir migas tua yang siap menerima suntikan CO2, sehingga jarak transportasi pendek dan biaya pipa dapat ditekan. Kombinasi CCUS dengan EOR memungkinkan proyek menghasilkan pendapatan tambahan dari minyak yang terangkat, memperbaiki keekonomian yang menjadi kendala utama proyek penyimpanan murni. Selain itu, kerangka hukum yang membuka penyimpanan karbon lintas negara berpotensi mengubah kapasitas geologi Indonesia menjadi komoditas ekspor jasa: negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan yang miskin ruang penyimpanan dapat membayar untuk menitipkan karbonnya di Indonesia. Namun tantangannya tidak ringan. Dari sisi regulasi, meski kerangka utama sudah ada, aturan turunan mengenai tanggung jawab jangka panjang atas CO2 yang tersimpan, mekanisme pemantauan-pelaporan-verifikasi (MRV), serta integrasi dengan bursa karbon nasional (IDXCarbon) masih perlu dimatangkan agar investor memiliki kepastian hukum selama puluhan tahun. Dari sisi biaya, meski 71 dolar AS per ton tergolong kompetitif, angka itu masih lebih tinggi dari harga karbon domestik saat ini, sehingga tanpa insentif fiskal, subsidi, atau harga karbon yang lebih tinggi, banyak proyek sulit mencapai kelayakan finansial murni. Tantangan sumber daya manusia dan infrastruktur juga nyata. CCUS menuntut keahlian geosains reservoir, rekayasa perpipaan CO2, dan pemantauan geologi jangka panjang โ kompetensi yang masih terbatas dan terpusat di beberapa perusahaan migas besar dan kampus seperti ITB yang memiliki Pusat Unggulan CCS/CCUS. Infrastruktur pipa CO2 khusus nyaris belum ada, sehingga proyek awal cenderung bersifat terintegrasi di satu lokasi (di mana sumber emisi dan reservoir berdekatan) ketimbang membangun jaringan transportasi bersama. Ada pula risiko reputasi: kritik bahwa CCUS bisa dijadikan alasan untuk memperpanjang umur bahan bakar fosil, sehingga penting memposisikannya sebagai pelengkap, bukan pengganti, transisi menuju energi terbarukan.

Gambar 7. Anatomi tantangan rintangan menuju eksekusi antara lain regulasi atau MRV, kesenjangan ekonomi, defisit infrastruktur dan kapasitas atau reputasi
Rekomendasi langkah yang konkret dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, prioritaskan proyek "hub terintegrasi" di klaster industri dengan sumber CO2 murni dan reservoir dekat โ pupuk, gas, dan petrokimia โ sebagai proyek mercusuar untuk membangun rekam jejak dan menekan biaya melalui skala. Kedua, percepat penyelesaian aturan turunan tentang tanggung jawab jangka panjang, MRV, dan tarif jasa penyimpanan lintas negara agar investasi FID 2026 tidak tertunda. Ketiga, kembangkan skema insentif โ kredit pajak ala 45Q, dukungan pembiayaan hijau, atau pengakuan penuh CCUS dalam perdagangan karbon โ untuk menjembatani selisih antara biaya dan harga karbon. Keempat, investasikan pada pendidikan dan riset melalui kolaborasi kampus-industri agar pasokan tenaga ahli tumbuh seiring skala proyek. Kelima, jaga transparansi dan tata kelola lingkungan agar CCUS diterima publik sebagai instrumen dekarbonisasi yang kredibel, bukan sekadar "izin mengemisi".
Penutup
CCUS bukan peluru perak yang akan menyelesaikan krisis iklim sendirian, tetapi ia adalah alat yang sulit digantikan untuk sektor-sektor yang paling keras kepala menolak dekarbonisasi. Indonesia berdiri di persimpangan yang menguntungkan: kapasitas geologi kelas dunia, kerangka regulasi yang terus matang, proyek raksasa yang menanti keputusan, dan posisi strategis untuk menjadi hub karbon kawasan. Tahun 2026, dengan keputusan investasi final Sunda-Asri dan kemajuan Tangguh, akan menjadi ujian apakah semua potensi itu berubah menjadi ton karbon yang benar-benar terkubur di bawah tanah โ atau tetap menjadi angka besar di atas kertas. Yang jelas, teknologi menangkap karbon sebelum ia naik ke langit telah bergerak dari ranah eksperimen menuju keputusan bisnis nyata, dan Indonesia memegang salah satu kunci terpentingnya.
Artikel Terkait

Membran Bioreaktor (MBR): Ketika Filter Berpori Nano Menyulap Air Limbah Jadi Air Layak Pakai

Menyalakan Pulau-Pulau Terpencil: Bagaimana Microgrid Hibrida Mengakhiri Era Genset Diesel

Hidrogen Hijau dari Panas Bumi: Ketika Elektrolisis Bertemu Uap Bumi Indonesia